Sutan Takdir Alisyahbhana lahir tanggal 11 Februari 1908 di Natal
(Sumatra Utara). Menamatkan KS di Bukittinggi dan HKS di Bandung
(1921-1928). Dari 1930-1942 menjadi redaktur kepala pada Balai Pustaka.
Mendirikan dan memimpin majalah kesusastraan Pujangga Baru (1933-1955).
Pada tahun 1942 meraih gelar Sarjana Hukum dan telah mengikuti kuliah di bidang filsafat dan Ilmu Bahasa Umum. Kemudian menjadi dosen untuk Bahasa Indonesia dan Sastra pada Universitas Nasionala Jakarta. Demikian permulannya suatu karier yang panjang baik di dalam Pendidikan Tinggi di Indonesia maupun di luar negri. Melakukan pekerjaan penelitian dalam soal Nilai-nilai di Eropa (1958-1959). Kemudian mengajar pada Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia (1963-1968).
Setelah kembalinya ke Indonesia, menjadi Rektor pada Universitas Nasional Jakarta. Di samping itu ia adalah pengambil inisiatif untuk banyak kegiatan lain. Mendirikan, memimpin majalah kebudayaan Konfrontasi (1955-1960), organisasi konferensi Filsafat Indonesia yang pertama tentang : Mencari Perumusan Soal-soal Etik dan Zaman Pembangunan (1972). Pada tahun 1973 membuka Balai Seni Toyabungkah di Bali.
Karya-karyanya antara lain beberapa novel yang mengandung gagasan-gagasan mengenai persoalan sosial dan artistik tertentu Tak Putus Dirundung Malang (1929), Layar Terkembang (mengenai peran wanita,1937), Grotta Azurra (1970, penuh renungan filsafat) dan salah satu novel tentang Zaman Jepang, Kalah dan Menang (1978).
Kumpulan sajak yang terbit, ialah Tebaran Mega (1955) dan Lagu Pemacu Ombak (1979). Selain itu, dia juga seorang penulis esai berbagai masalah dalam bidang bahasa sastra, kebudayaan dan filsafat.
Melihat biografi Sutan Takdir Alisyahbhana di atas, tak heran bukan kalau ia mempunyai nama besar. Ya, nama besarnya tidak muncul dalam waktu yang singkat tentunya. Lain halnya kini, nama besar bisa muncul secara tiba-tiba. Bisa menjadi fenomenal, konsekuensinya dapat hilang secara singkat pula! Tentu kita tahu bukan sosok-sosok siapa mereka !!!
Pada tahun 1942 meraih gelar Sarjana Hukum dan telah mengikuti kuliah di bidang filsafat dan Ilmu Bahasa Umum. Kemudian menjadi dosen untuk Bahasa Indonesia dan Sastra pada Universitas Nasionala Jakarta. Demikian permulannya suatu karier yang panjang baik di dalam Pendidikan Tinggi di Indonesia maupun di luar negri. Melakukan pekerjaan penelitian dalam soal Nilai-nilai di Eropa (1958-1959). Kemudian mengajar pada Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia (1963-1968).
Setelah kembalinya ke Indonesia, menjadi Rektor pada Universitas Nasional Jakarta. Di samping itu ia adalah pengambil inisiatif untuk banyak kegiatan lain. Mendirikan, memimpin majalah kebudayaan Konfrontasi (1955-1960), organisasi konferensi Filsafat Indonesia yang pertama tentang : Mencari Perumusan Soal-soal Etik dan Zaman Pembangunan (1972). Pada tahun 1973 membuka Balai Seni Toyabungkah di Bali.
Karya-karyanya antara lain beberapa novel yang mengandung gagasan-gagasan mengenai persoalan sosial dan artistik tertentu Tak Putus Dirundung Malang (1929), Layar Terkembang (mengenai peran wanita,1937), Grotta Azurra (1970, penuh renungan filsafat) dan salah satu novel tentang Zaman Jepang, Kalah dan Menang (1978).
Kumpulan sajak yang terbit, ialah Tebaran Mega (1955) dan Lagu Pemacu Ombak (1979). Selain itu, dia juga seorang penulis esai berbagai masalah dalam bidang bahasa sastra, kebudayaan dan filsafat.
Melihat biografi Sutan Takdir Alisyahbhana di atas, tak heran bukan kalau ia mempunyai nama besar. Ya, nama besarnya tidak muncul dalam waktu yang singkat tentunya. Lain halnya kini, nama besar bisa muncul secara tiba-tiba. Bisa menjadi fenomenal, konsekuensinya dapat hilang secara singkat pula! Tentu kita tahu bukan sosok-sosok siapa mereka !!!
Sumber: http://id.shvoong.com/books/biography/2120139-biografi-sutan-takdir-alisyahbana/#ixzz2J3c0N0P1
PUISI STA
MENUJU KE LAUT
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat :
“Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega.”
Sejak itu jiwa gelisah,
Selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa penggalang.
Berontak hati hendak bebas,
menyerah segala apa mengadang.
Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti
pekik dan tempik sambut menyambut
Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhempas, kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiadalah ingin,
ketenangan lama tiada diratap
…………………………………..
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat
SINOPSIS DAN UNSUR INTRINSIK NOVEL LAYAR TERKEMBANG
Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang.
Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggap di Martapura, Sumatra Selatan.
Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selal teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.
Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.
Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sesungguhpun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.
Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginandsnya untuk menjalin cinta dengannya. Sesungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya.
Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat.
Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria mengjhembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain”. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi.
2. Unsur Instrinsik Novel
1. Tema : Perjuangan Wanita Indonesia
2. Latar / Setting ;
A. Gedung Akuarium di Pasar Ikan,
B. Rumah Wiriaatmaja,
C. Mertapura di Kalimantan Selatan,
D. Rumah Sakit di Pacet,
E. Rumah Partadiharja,
F. Gedung Permufakatan.
3. Alur : Maju
4. Sudut Pandang : Orang ketiga yang ditandai dengan menggunakan nama dalam menyebutkan tokoh-tokohnya.
5. Penokohan
a. Maria : Anak Raden Wiriaatmaja, seseorang yang mudah kagum,mudah memuji dan memuja,lincah dan periang.
b. Tuti : Anak Raden Wiriaatmaja, seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan wanita,selalu serius,jarang memuji,pandai dan cakap dalam mengerjakan sesuatu.
c. Yusuf : Putra Demang Munaf di Mrtapura, seseorang mahasiswa kedokteran yang pandai dan baik hati.
d. Wiriaatmaja : Ayah dari Maria dan Tuti, seorang yang memegang teguh agama,baik hati dan penyayang.
e. Partadiharja : Adik Ipar Wiriaatmaja, seseorang yang baik hati, teguh pendirian dan peduli antar sesama.
f. Saleh : Adik Partadiharja, seorang lulusan sarjana yang sangat peduli akan alam sehingga ia mengabdikan diri sebagai seorang petani.
g. Rukamah : Sepupu Tuti dan Maria, seseorang yang baik hati dan suka bercanda.
h. Ratna : Istri saleh, Seorang petani yang pandai dan baik hati.
i. Juru Rawat : Seorang yang baik hati.
7. Amanat : Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat.
Baca Selengkapnya di >> http://pusat-berbagi.blogspot.com/2012/04/sinopsis-sutan-takdir-alisyahbana-layar.html#ixzz2J3ekymxd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar