NAMA : RISKANDA WIDHIYANTO
SEKOLAH :
SMK PANCASILA 2 JATISRONO
E-mail : riskanda.widhiyanto@gmail.com
STOP TO START
Saat
itu, seperti biasa, kulakukan hal-hal yang biasa kulakukan. Yaitu minum, menghisap,
menyuntik dan hal-hal buruk lainnya. Hal ini akibat dari kegagalanku dalam
merintis karir dalam dunia bermusik.
Kuingat,
suatu pagi yang cerah, aku, kakakku dan adikku mempersiapkan segala sesuatu
untuk melamar ke perusahaan rekaman di kota kami. Jika lamaran kami di terima, kami
akan menjadikannya sebuah awal untuk bermusik. ”Hey Chris, inilah awal dari
kesuksesan kita, semangat, okey....” kata adikku kepadaku. Aku hanya
tersenyum,begitupun dengan kakakku.
Setelah
selesai persiapan,kami berangkat dengan langkah pasti untuk meraih mimpi. Dalam
anganku, sudah terbentang pintu kesuksesan, jalan bagiku dan kedua saudaraku
untuk meraih cita-cita. Beberapa saat setelah perjalanan, tiba kami di sebuah
perusaha’an rekaman.
Kami
segera masuk dan menyerahkan CD kopian rekaman suara kami bertiga, sebagai
acuan apakah diterima atau tidak. Namun sayang, satu kesempatan telah gagal
kami raih. Tapi kami belum menyerah. Aku yakin pasti ada cara lain, mungkin
juga lewat perusahaan rekaman lain. Kami mulai lagi perjalanan kami mencari
perusahaan rekaman yang mau menerima suara kami.
Tapi,
kami mulai frustrasi ketika sudah sehari penuh melamar, menyerahkan copian CD, lalu
ditolak. Terhitung sudah empat perusahaan rekaman yang menolak suara kami, dengan
alasan inilah, itulah. Aku sangat-sangat frustasi. Namun tak begitu dengan adik
dan kakakku. Walaupun ada rasa kecewa, namun mereka masih bisa bersabar. ” Mungkin
ini belum saatnya, Chris.... ” hibur kakakku padaku. Aku hanya menunduk.
Kamipun
segera memutuskan untuk pulang karena matahari mulai tenggelam, tapi aku
memilih untuk singgah dulu di sebuah Bar di pinggir jalan, hanya sekedar untuk
mengurangi rasa frustasiku. Kakak dan adikku pulang duluan.
Aku
segera memesan sebotol bir dan segera menenggaknya untuk menghilangkan
kepenatan dalam kepalaku. Rasanya kepenatanku sedikit berkurang berkat bir itu,
namun tak lama berselang berganti pusing yang menghinggapi kepalaku. Kutundukkan
kepalaku bersandar meja, lama sekali. Setengah tidur kurasakan.
Sampai
ku terbangun setelah ada seorang seumuran denganku menepuk bahu kananku. Kulihat
pria itu sebentar. Tubuhnya atletis, berbadan tegap, dan kutebak dia adalah
anggota sebuah gangster. Dan terlihat pula ia menyukai musik hip-hop, sama
seperti aliran musikku. Dengan salam kepalan layaknya artis hip-hop, kami
bersalaman. Dan dari obrolan singkat kuketahui namanya Joe.
Dengan
santai dan bersahabat, dia bertanya padaku, ”Ada apa bung,? Kau terlihat
frustasi, ada apa ceritalah...??”. Aku tersenyum kecil lalu menenggak birku. Lalu
kuceritakan semua masalahku,terutama kegagalanku tadi.
“Hmm,
sabarlah kawan. Kalau kau mau, aku bisa mengajakmu ketempat dimana kau bisa
melupakan semua masalahmu. ” Jawabnya setelah mendengar curhatku.”Okay...aku
mau” jawabku pertanda setuju pada
ajakannya.
Dengan
naik Chevrolet miliknya, aku diajak ketempat yang ia maksud. Aku terkejut
melihat tempat itu. Karena tempat itu adalah sebuah klub malam, juga sebagai
markas para gangster. Buluku agak merinding melihat “Penari-Penari” club yang
menari erotis. Setelah berjalan sebentar, aku tiba di sebuah ruang dan langsung
dipertemukan dengan ketua gangster.
Malam
itu aku diajari hal-hal yang sebelumnya tidak bisa kubayangkan. Menghisap, menyuntik,
menghirup narkoba dan hal-hal buruk lain. Tapi anehnya meskipun ku tahu itu
buruk, aku menurut saja. Aku coba menghisap,dan rasanya semua penat di kepalaku
hilang entah kemana. Seperti therapy
yang sesaat dapat mengatasi semua masalahku. Kurasakan nikmat yang ingin
kurasakan lagi dan lagi dan lagi.
Seminggu
aku berhubungan dengan Joe dan teman-teman gangsternya. Dan kini akupun sudah
menjadi anggota gangster sama seperti Joe. Setiap hari, setiap detik, setiap
waktu, hanya kehidupan kriminal yang bersama kami. Seperti sudah ada sebuah
motto pada diri kami “NO CRIME, NO LIFE”.
Aku bagaikan terjerumus ke dalam lubang yang sangat dalam, sangat dalam bahkan
kedalamannya tiada akhir.
Sebulan, dua bulan aku hidup
sebagai seorang gangster. Aku hanya pulang kerumah hanya saat minta jatah uang
untuk keperluanku. Aku seperti sudah berganti keluarga. Keluargaku yang dulu, seperti
bukan siapa siapaku, sedangkan kelompok gangsterku bagaikan keluargaku. Bahkan
suatu saat, ayah pernah berkata padaku, ” Chris bangunlah, kau sedang berada
dalam sebuah mimpi buruk, bangunlah..”. Jika aku masih waras, pasti sudah
kupikirkan ucapan ayahku itu. Tapi aku justru pergi tanpa peduli siapa yang
berbicara denganku.
***
“Hey
bro.. Sudah dengar kabar dari luar?” seorang teman gangster bertanya sambil
menyapaku. ”Hey..belum, ada apa broo??” jawabku seraya mengambil dua botol bir
dari lemari pendingin, satu kuberikan padanya. ”Ayahmu sakit keras, dan bahkan
kudengar sudah hampir satu minggu...” jawabnya
dengan santai seperti tanpa beban. Jawaban yang seakan bagai shock therapi buatku. Jawaban yang santai namun terus berputar-putar di
kepalaku. Botol bir yang tadi ku pegang erat, terjatuh begitu saja.
Aku
terdiam, terhenyak, hampa hingga mematung. Mulutku terdiam, namun pikiranku tak
jelas apa yang aku pikirkan. Otakku bagai dipenuhi jawaban temanku tadi. Dan
terasa ada segerombol petir lengkap dengan badai, menyerang serempak pada satu
titik, hatiku. Ya.. hatiku bagai tersambar petir yang berlapis-lapis dan tak
berhenti. Sesaat aku seperti berada dalam ruang yang luas, bahkan tak berujung.
Yang di dalamnya hanya ada aku, dan semua kesalahanku. Kesalahanku bak mau
menyerang, menerkamku, menelanku utuh utuh. Mati rasa sejenak diriku, tak dapat
merasakan betapa ramainya tempatku berada saat ini. Yang kurasakan hanya
senyap, hampa.
Sekitar
lima menit tubuhku mati rasa, namun untungnya aku segera tersadar. Namun dalam
sadarku, seperti masih ada bekas sambaran petir dihatiku. Bergegas aku pergi
dari tempat itu. Segera aku melaju menuju rumah yang telah lama tak kusinggahi,
rumahku sesungguhnya. Aku tergesa-gesa, seperti ada kematian yang siap
menghampiriku jika aku tidak segera sampai di rumah.
Tak
lama, aku sudah sampai dirumah. Tempat dimana aku berasal dan seharusnya berada
belakangan ini. Tempat dimana terukir
kenangan indah juga duka bersama kedua saudaraku dan kedua orangtuaku. Segera
aku masuk ke dalam. Sampai di ruang tengah, kulihat semua anggota keluargaku
berkumpul dengan wajah yang cemas bercampur sedih.
“Dimana
ayah, bunda...dimana ayah...??” tanyaku kepanda ibunda dengan setengah kalap. Beliau
mernjawab, ”Nak...ayahmu sudah menunggumu sedari seminggu yang lalu. Bahkan ia
rela bersikeras takmau di bawa ke RS hanya demi menanti kehadiranmu.” Jawabnya
dengan nada yang sedih.
Mendengar
jawaban itu, aku segera masuk ke kamar ayah. Seperti yang dikatakan ibunda, beliau
sudah menantiku. Melihatku, beliau langsung menyambutku dengan senyuman manis
nan bijaksana. Senyum yang tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini. Langsung
kuraih tangannya dan kupeluk erat tubuhnya, seakan takmau kehilangan beliau.
“Ayah,
maafkan aku, maafkan semua kesalahanku, perilaku burukku dan tak ada di sisimu
belakangan ini. Maafkan aku ayah, maafkan aku.” tangisku dalam pelukannya. ”Nak,
kuberi tahu sesuatu, tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Semua orang
pasti pernah melakukan kesalahan dan berada dalam masa masa sulit, masa masa
yang sedang kau lalui sekarang. Dan, semua orang punya kekurangan, tinggal
bagaimana kita mengubah kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan, CHANGING THE NEGATIVE TO POSITIVE. ”
Jawabnya dengan tutur kata yang lembut tapi berwibawa. Seakan-akan aku tidak
pernah menyakiti perasaannya. ”Terima kasih, ayah..” jawabku masih dengan
tangis.
“Dan
ayah tau, pasti engkau dapat melakukannya, nak. Yakin dan percayalah. Just Believe It”, tak kusangka itu adalah kata kata terakhirnya sebelum beliau
benar benar pergi dariku dan semua anggota keluarga. Kurasakan luka dalam hati
yang sempat berkurang setelah bertemu dengan ayah, kini kembali semakin sakit. Air
mata yang sedari tadi mengalir, terasa semakin deras.
Aku
keluar dari kamar ayah dengan hati yang hampa, pikiran yang kosong dan dengan
langkah yang berat. Segera kupeluk ibunda dan kedua saudaraku. ”Maafkan aku, bunda..
Semua ini karena kesalahanku. Dan sekarang beliau telah benar benar pergi ke
surga. ”Ucapku di sertai derai tangis kepada ibunda. Ibunda hanya terdiam sebentar, lalu berkata,”Tak apa
nak. Semua sudah digariskan oleh yang kuasa. Yang sekarang perlu kau lakukan
hanyalah kembali ke jalan yang benar. Seperti yang diharapkan ayahandamu..”
Lalu
aku menyendiri untuk menenangkan pikiranku. Otakku berpikir keras dan akhirnya
kusadari aku telah salah. Bersalah kepada semua orang yang sangat menyayangiku.
Ayah, Bunda, Adik, dan Kakakku. Sesal, itulah yang aku rasakan. Rasa sesal
mengapa dulu aku harus menuruti ajakan iblis durjana. Sesal yang terasa sangat
sesak di dada.
Dan akhirnya setelah agak lama menyendiri,
kuputuskan untuk membuka pikiranku, yang sudah lama tertutupi oleh kabut kelam
perbuatanku. Kubuka pikiranku untuk meraih mimpiku. Untuk menebus kesalahanku, kesalahan
yang berakibat sangat fatal.
***
Sudah
lima bulan sejak kematian ayahandaku dan sudah dua bulan sejak aku keluar dari
panti rehabilitasi. Ya...sejak kematian ayahku, kubuka pikiranku untuk merubah
jalan hidupku dan meraih cita-citaku. Dan kurasa langkah pertama yang paling
penting adalah merehabilitasi diriku sendiri, agar terbebas dari jerat narkoba
yang selama ini membelenggu jati diriku.
Kuingat dan kukenang hari hariku di
dalam masa rehabilitasi. Kumulai hari dengan berat karena bayang-bayang narkoba
masih berkutat di kepalaku. Namun semua beban itu terkalahkan oleh kemauan
keras dalam diriku untuk berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dan
kemauan itu datang berkat ayahandaku.
***
Terbangun
aku dari lamunanku atas masa laluku setelah ada seseorang menepuk bahuku. Kutoleh
kebelakang, tersenyum seorang wanita cantik, dialah manajerku, penasehatku dan
juga istriku. ”Engkau tak apa sayang? Apa kamu sudah siap dengan lagu yang akan
kau tampilkan esok di konser??”. Aku hanya tersenyum lalu mengecup keningnya. Dan
kulihat arloji di tanganku, astaga! Sudah hampir satu jam aku mengenang masa
laluku.
NAMA : RENNO ANDRIANSAH NAFIANTO SAPUTRO
SEKOLAH :
SMK PANCASILA 2 JATISRONO
E-mail : sebastian.ricky77@yahoo.com
PEJANTAN HEBAT
Langit
menjadi terang, seekor
naga telah menghapus gelapnya malam. Sang surya sudah terbit, dedaunan kian
terjatuh tertiup angin. Kokok ayam sudah lama berbunyi ataupun radio teriakan
tukang sayur saling bersautan. Para remaja dengan pakaian sederhana, dengan
alat perangnya menghantam rasa malu dan selalu bekerja keras, kini mereka mulai
berjalan. Teriakan tukang minuman dan bisingnya kendaraan mengiringi langkah
mereka, demi gemericik recehan uang kembalian, mereka terus berjalan..
Tidak
menanggung rasa malu, mereka terus berjalan, bukan sembarang berjalan, mereka berjalan
demi mendapat uang kembalian. Dari sudut kampung ke sudut kampung, sudut kota
ke sudut kota, dari lampu merah satu ke lampu merah lainnya. Mereka pantang
menyerah demi kehidupannya yang selalu kekurangan, mereka terus dan terus
bernyanyi.
Kini
sang surya sudah tepat di atas kepala mereka, memang panas tetapi akan selalu
dirasakan dingin apabila mereka sedang benar-benar kekurangan
dan tidak berhenti berjalan atau NGEBUT
bak SATRIA F. Tapi untuk hari ini mereka memutuskan untuk
beristirahat sejenak. Kini mereka berjalan, mencari tempat yang teduh untuk
teduh untuk menghilangkan penat, dan berhenti sejenak untuk menaruh kepala di
atas batu pada sebuah taman.
“Dua
ribu lima ratus, tiga ribu, empat ribu lima ratus, lima ribu, lima ribu dua
ratus... “ kini hasil ngamen setengah
hari dihitung dengan teliti, tampaknya memang numpuk tapi nilai nya baru Rp 15.000.
Kini mereka mulai berjalan kembali, tidak lama memang waktu mereka untuk
melepaskan penat dan capek, karena mereka sedang dikejar adzan maghrib waktu
mereka berhenti ngamen. Mereka lagi-lagi
berjalan ke sudut-sudut dan perempatan jalan di tengah-tengah IBUKOTA. Melihat
hari minggu kawan-kawan asyik bermain, mereka sedih, tetapi mereka
tidak bisa berbuat apa-apalagi, uang baru Rp 15.000, belum cukup untuk beli
makan berdua untuk satu hari saja, iya berdua Roby dan Albert, seorang
kakak-adik yang selalu giat mencari uang dan bekerja keras demi uang recehan
yang bagi mereka itu segalanya.
Mereka
kini sedang menghibur para pengendara mobil di BANG-JO, alias perempatan lampu merah, mereka menatap sebuah kaca
mobil, mereka melihat diri mereka, iuch
tampak kasian dan memprihatinkan. Rambut panjang nan SAPU LIDI, Kulitnya hitam
seperti BATU, dan matanya tajam nan KILAT,
menggambarkahn mereka selalu beroptimis mencari uang tanpa memandang dari luar
mereka. Seorang remaja yang putus sekolah di bangku kelas empat dan satu SD,
sampai sekarang berusia sembilan belas dan lima belas tahun, mencari percikan
uang disiang bolong, kalau dapat anak remaja sekarang mending di rumah lalu BOKCI ataupun NHUPI. Iya kahn??
“Kamu
lapar??” tanya Roby pada adiknya. Albert tidak menjawab melainkan hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Iya
dek, yang sabar ya, kita berjalan
dulu, jika uangnya sudah terkumpul banyak, nanti kakak beliin ayam goreng deh, “ kata Roby sambil menghibur Albert.
Wajah albert bersedih, tetapi pikirnya demi sesuap nasi Ia harus memakan hasil
dari keringatnya sendiri. “Ok.! “ kata singkat Albert dan senyum manisnya.
TINGGAL
KENANGAN, PUNCK ROCK JALANAN, SAKIT HATI, dan kawan-kawan... kini turut meramaikan jalanan. Satu
lagu, dua lagu, sampai request lagupun mereka nyanyikan. Tuhan
memang selalu melihat, hari yang cerah dan panasnya matahari membuat mereka
selalu semangat, dan terus berjuang. Kini hari yang semakin ramai membuat
mereka senang, banyaknya mobil-mobil pribadi dan taxi-taxi bak SEMUT yang antri
makanan, bila dilihat dari pucuk gedung yang mencakar langit. Dari ramainya
mobil, ada
satu mobil yang kaca mobil belakang dari mobil yang mewah
nan menggoda, terbuka dan terlihat bapak bapak yang lumayan
tua sekitar empat puluh tahunan yang memakai peci putih dan kalung sorban,
bertanya “Rumah kalian dimana dek ? ” dengan suara yang
pelan namun penuh tanda tanya. “Kami tinggal di toko pak, dengan atap, dinding,
dan alas kardus “ sahutku dengan tegar. “ jadi kalian tidak punya rumah.?” kata
bapak tadi dengan rasa kasiannya. Dan Albert dan Roby pun hanya menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“ Astahgfirllah, malang nasib kalian.! “ kata bapak bapak tersebut dengan menaruh uang ke dalam kantong yang
dibawa Albert. “ terimakasih ya pak .! “ kata Albert kepadanya.
Bapak-bapak tadi tersenyum dengan menutup jendela mobil yang bening itu.
Setelah
mobilitu berjalan, mereka menepi dari jalan dan melihat uang yang baru saja di
kasih sama bapak-bapak tua tadi. Mereka kaget layak ditodong pistol sama
penjahat. “ kak uangnya banyak sekali, merah-merah lagi, “ kata Albert pada
kakaknya. “Wah iya ya dek, Alhamdulillah, kita patut bersyukur dan berterimakasih
kepada ALLAH dan bapak itu tadi ” katanya sambil melihat
kelangit. “ betul kak !“ sahut Albert
Langit
cerah dihari minggu, yang selalu menghantar dan mengiringi akan
kegembiraan mereka, rasa riang dan bungah baru merekarasakan hari ini. Langit
cerah dihari minggu mengiringi jalan mereka menuju suatu warteg karena mereka
sudah DUA HARI tidak makan, tetapi mereka belum merasa puas dengan hasil hari
ini, mereka harus terus bekerja keras, karena pikir mereka keberuntungan tidak
akan datang kedua kali. Hal ini membuat mereka tambah semangat dalam mencari
uang, mereka tambah greget unuk lagi dan lagi, karena ALLAH S.W.T akan selalu melihat
jalan mereka. Kini saatnya mereka menikmati mantapnya menu warteg.
Ayam
goreng dan kawan kawan memberi kepuasan pada perut kedua kakak-adik tersebut,
tangan yang biasa memegang gitar dan ketipung itu kini memegang ayam goreng dan
sendok warteg. Hehe
Wajah
pucat dari mereka kini sudah menjadi terang, layak baterrai yang baru di charg, perut mereka sudah kenyang,
tenaga mereka sudah pulih kembali, layak orang buka puasa dengan nasi, ayam
goreng, sayur asem, dan beberapa gelas es-teh, layak di strum
tegangan listrik 220 V. ”Sudah bu, semuanya
berapa?“ tanya Roby pada Ibu warteg. “Tiga
puluh ribu saja dek.!“ jawab Ibu warteg.
“ mahal banget buk ? “ tanya Albert dengan keras. “
Emang kalian tadi makan dan minum apa ? “ jawab Ibu warteg dengan tegas. “
hehe, iya iya, I’me Sorry buk, ayo bayar kak,!! “ jawab Albert dengan tersenyum dan menyuruh
kakaknya untuk membayar.“
ok ! “ sahut Roby
Sehabis
makan kenyang layak orang buka puasa, langit tampak mendung, matahari
tertutupi awan hitam, dan tiada sorotan sinar matahari, layak sudah petang
hari. Rintikan gerimis kini mulai lebat, derasnya curah hujan, membuat mereka
basah kuyup dan berlari di pojopkan toko. Mereka berdiri dan menempelkan
punggung mereka pada tembok sampai mereka terduduk sendirinya karena lantai
licin oleh percikan air hujan. Mereka terduduk berdua sambil melihat genangan
air yang mulai banyak di tengah-tengah jalan. Kini hujan sudah reda, sang naga
sudah menghapus mendung hitam dari langit yang cerah dan langit kembali menjadi
terang. Kini suasana menjadi sore hari, senja yang indah dan merahnya langitdi
ufuk barat membuat hari sore menjadi segar, bunga yang layu mulai mekar, tanah
yang kusam menjadi kecokelatan, karena sudah di guyur derasnya curah hujan di
musim kemarau ini.
Kini
sore yang indah menjadi petang dan menjadi malam yang cerah dengan rasi bintang
dan cahaya rembulan. Yang menemani mereka berjalan menuju istana mereka, mereka
sampai di istana, dan menata tempat tidur mereka berdua. Kini mereka mulai
beristirahat hingga kokok ayam membangunkan mereka. Lama sudah mereka tertidur
pulas dimalam yang indah, kini mereka terbangun, dan membereskan tempat tidur
mereka karena mungkinsebentar lagi akan di pakai untuk berjualan. Hari kembali terang, sang surya sudah tiba di
ufuk timur, angin yang cukup kencang, dedaunan yang berjatuhan dan embun pagi yang
menetes menjadi saksi atas keberangkatan mereka mencari ricihan uang. Mereka
berangkat pagi pagi layaknya petani berangkat ke sawah. Hari ini mereka ngamen
lewat angkutan umum dan ke BANG-JO yang belom tersentuhnya. Saat ia mulai di
jalanan, ngamen di pinggir jalan, mereka di panggil seseorang dari dalam mobil,
eh ternyata bapak-bapak tua yang kemarin memberi
uang banyak pada mereka, dan Ia berkata “ kalian ikut saya ya ? “. “ kemana pak
? “ jawab Albert dengan keras. “ sudah
ikut saja, nanti kalian senang kok, “ jawab Bapak-bapak tadi. Mereka percaya
dan masuk kedalam mobil mewah tersebut, dan ikut sama bapak tadi. Masa mereka tidak percaya sama orang yang sudah baik
kepadanya, memberi uang dan saat ini mau ajak Mereka jalan-jalan.
“Ini
rumah saya dek“ kata bapak tadi sambil memperlihatkahn dan menggiringnya masuk
kerumah. “Wah besar banget pak, rumah bapak layak istana, coba saja
saya bisa tinggal disini, pasti saya tidak akan main kemana-mana, hehe kata
Albert dengan tersenyum.” Sahutku dengan heran. “Kalian bisa tinggal disini, bahkan
kalian akan saya jadikan anak kalau mau!“ jawab Bapak tadi. “Ah bapak bisa aja,
hehe, oh iya nama bapak siapa?“ jawabku sungkan. “Nama saya Sulaiman, terserah
kalian mau panggil apa.“ kata Pak Sulaiman.
“Owh iya, Pak Man saja ya ? “
“ Iya, siapa nama kalian?. “Saya Roby dan ini
adikku Albert namanya.” Jawab Roby. “Apakah kalian tidak mau kan tinggal disini???
“ tanya pak Sulaiman.
“ Mau dong pak,
serius kaan ? “ jawab Albert. “ Iya dong “ sahut pak
Sulaiman.
Kini
mereka melanjutkan sekolah dan tinggal bersama bapak Sulaiman, dan kini mereka
sudah bahagia dengan keadaan sekarang dan tidak melupakan kerja keras nya dulu
bersama adiknya dan alat perangnya.