Jumat, 11 Januari 2013

Hasil Karya Siswa SMK Pancasila 2 Jatisrono



NAMA                        : RISKANDA WIDHIYANTO
SEKOLAH                 : SMK PANCASILA 2 JATISRONO
E-mail                          : riskanda.widhiyanto@gmail.com

 
STOP TO  START
Saat itu, seperti biasa, kulakukan hal-hal yang biasa kulakukan. Yaitu minum, menghisap, menyuntik dan hal-hal buruk lainnya. Hal ini akibat dari kegagalanku dalam merintis karir dalam dunia bermusik.
Kuingat, suatu pagi yang cerah, aku, kakakku dan adikku mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar ke perusahaan rekaman di kota kami. Jika lamaran kami di terima, kami akan menjadikannya sebuah awal untuk bermusik. ”Hey Chris, inilah awal dari kesuksesan kita, semangat, okey....” kata adikku kepadaku. Aku hanya tersenyum,begitupun dengan kakakku.
Setelah selesai persiapan,kami berangkat dengan langkah pasti untuk meraih mimpi. Dalam anganku, sudah terbentang pintu kesuksesan, jalan bagiku dan kedua saudaraku untuk meraih cita-cita. Beberapa saat setelah perjalanan, tiba kami di sebuah perusaha’an rekaman.
Kami segera masuk dan menyerahkan CD kopian rekaman suara kami bertiga, sebagai acuan apakah diterima atau tidak. Namun sayang, satu kesempatan telah gagal kami raih. Tapi kami belum menyerah. Aku yakin pasti ada cara lain, mungkin juga lewat perusahaan rekaman lain. Kami mulai lagi perjalanan kami mencari perusahaan rekaman yang mau menerima suara kami.
Tapi, kami mulai frustrasi ketika sudah sehari penuh melamar, menyerahkan copian CD, lalu ditolak. Terhitung sudah empat perusahaan rekaman yang menolak suara kami, dengan alasan inilah, itulah. Aku sangat-sangat frustasi. Namun tak begitu dengan adik dan kakakku. Walaupun ada rasa kecewa, namun mereka masih bisa bersabar. ” Mungkin ini belum saatnya, Chris.... ” hibur kakakku padaku. Aku hanya menunduk.
Kamipun segera memutuskan untuk pulang karena matahari mulai tenggelam, tapi aku memilih untuk singgah dulu di sebuah Bar di pinggir jalan, hanya sekedar untuk mengurangi rasa frustasiku. Kakak dan adikku pulang duluan.
Aku segera memesan sebotol bir dan segera menenggaknya untuk menghilangkan kepenatan dalam kepalaku. Rasanya kepenatanku sedikit berkurang berkat bir itu, namun tak lama berselang berganti pusing yang menghinggapi kepalaku. Kutundukkan kepalaku bersandar meja, lama sekali. Setengah tidur kurasakan.
Sampai ku terbangun setelah ada seorang seumuran denganku menepuk bahu kananku. Kulihat pria itu sebentar. Tubuhnya atletis, berbadan tegap, dan kutebak dia adalah anggota sebuah gangster. Dan terlihat pula ia menyukai musik hip-hop, sama seperti aliran musikku. Dengan salam kepalan layaknya artis hip-hop, kami bersalaman. Dan dari obrolan singkat kuketahui namanya Joe.
Dengan santai dan bersahabat, dia bertanya padaku, ”Ada apa bung,? Kau terlihat frustasi, ada apa ceritalah...??”. Aku tersenyum kecil lalu menenggak birku. Lalu kuceritakan semua masalahku,terutama kegagalanku tadi.
“Hmm, sabarlah kawan. Kalau kau mau, aku bisa mengajakmu ketempat dimana kau bisa melupakan semua masalahmu. ” Jawabnya setelah mendengar curhatku.”Okay...aku mau”  jawabku pertanda setuju pada ajakannya.
Dengan naik Chevrolet miliknya, aku diajak ketempat yang ia maksud. Aku terkejut melihat tempat itu. Karena tempat itu adalah sebuah klub malam, juga sebagai markas para gangster. Buluku agak merinding melihat “Penari-Penari” club yang menari erotis. Setelah berjalan sebentar, aku tiba di sebuah ruang dan langsung dipertemukan dengan ketua gangster.
Malam itu aku diajari hal-hal yang sebelumnya tidak bisa kubayangkan. Menghisap, menyuntik, menghirup narkoba dan hal-hal buruk lain. Tapi anehnya meskipun ku tahu itu buruk, aku menurut saja. Aku coba menghisap,dan rasanya semua penat di kepalaku hilang entah kemana. Seperti therapy yang sesaat dapat mengatasi semua masalahku. Kurasakan nikmat yang ingin kurasakan lagi dan lagi dan lagi.
Seminggu aku berhubungan dengan Joe dan teman-teman gangsternya. Dan kini akupun sudah menjadi anggota gangster sama seperti Joe. Setiap hari, setiap detik, setiap waktu, hanya kehidupan kriminal yang bersama kami. Seperti sudah ada sebuah motto pada diri kami “NO CRIME, NO LIFE”. Aku bagaikan terjerumus ke dalam lubang yang sangat dalam, sangat dalam bahkan kedalamannya tiada akhir.
Sebulan, dua bulan aku hidup sebagai seorang gangster. Aku hanya pulang kerumah hanya saat minta jatah uang untuk keperluanku. Aku seperti sudah berganti keluarga. Keluargaku yang dulu, seperti bukan siapa siapaku, sedangkan kelompok gangsterku bagaikan keluargaku. Bahkan suatu saat, ayah pernah berkata padaku, ” Chris bangunlah, kau sedang berada dalam sebuah mimpi buruk, bangunlah..”. Jika aku masih waras, pasti sudah kupikirkan ucapan ayahku itu. Tapi aku justru pergi tanpa peduli siapa yang berbicara denganku.
***
“Hey bro.. Sudah dengar kabar dari luar?” seorang teman gangster bertanya sambil menyapaku. ”Hey..belum, ada apa broo??” jawabku seraya mengambil dua botol bir dari lemari pendingin, satu kuberikan padanya. ”Ayahmu sakit keras, dan bahkan kudengar sudah hampir satu minggu...”  jawabnya dengan santai seperti tanpa beban. Jawaban yang seakan bagai shock therapi buatku. Jawaban yang santai namun terus berputar-putar di kepalaku. Botol bir yang tadi ku pegang erat, terjatuh begitu saja.
Aku terdiam, terhenyak, hampa hingga mematung. Mulutku terdiam, namun pikiranku tak jelas apa yang aku pikirkan. Otakku bagai dipenuhi jawaban temanku tadi. Dan terasa ada segerombol petir lengkap dengan badai, menyerang serempak pada satu titik, hatiku. Ya.. hatiku bagai tersambar petir yang berlapis-lapis dan tak berhenti. Sesaat aku seperti berada dalam ruang yang luas, bahkan tak berujung. Yang di dalamnya hanya ada aku, dan semua kesalahanku. Kesalahanku bak mau menyerang, menerkamku, menelanku utuh utuh. Mati rasa sejenak diriku, tak dapat merasakan betapa ramainya tempatku berada saat ini. Yang kurasakan hanya senyap, hampa.
Sekitar lima menit tubuhku mati rasa, namun untungnya aku segera tersadar. Namun dalam sadarku, seperti masih ada bekas sambaran petir dihatiku. Bergegas aku pergi dari tempat itu. Segera aku melaju menuju rumah yang telah lama tak kusinggahi, rumahku sesungguhnya. Aku tergesa-gesa, seperti ada kematian yang siap menghampiriku jika aku tidak segera sampai di rumah.
Tak lama, aku sudah sampai dirumah. Tempat dimana aku berasal dan seharusnya berada belakangan ini.  Tempat dimana terukir kenangan indah juga duka bersama kedua saudaraku dan kedua orangtuaku. Segera aku masuk ke dalam. Sampai di ruang tengah, kulihat semua anggota keluargaku berkumpul dengan wajah yang cemas bercampur sedih.
“Dimana ayah, bunda...dimana ayah...??” tanyaku kepanda ibunda dengan setengah kalap. Beliau mernjawab, ”Nak...ayahmu sudah menunggumu sedari seminggu yang lalu. Bahkan ia rela bersikeras takmau di bawa ke RS hanya demi menanti kehadiranmu.” Jawabnya dengan nada yang sedih.
Mendengar jawaban itu, aku segera masuk ke kamar ayah. Seperti yang dikatakan ibunda, beliau sudah menantiku. Melihatku, beliau langsung menyambutku dengan senyuman manis nan bijaksana. Senyum yang tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini. Langsung kuraih tangannya dan kupeluk erat tubuhnya, seakan takmau kehilangan beliau.
“Ayah, maafkan aku, maafkan semua kesalahanku, perilaku burukku dan tak ada di sisimu belakangan ini. Maafkan aku ayah, maafkan aku.” tangisku dalam pelukannya. ”Nak, kuberi tahu sesuatu, tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan berada dalam masa masa sulit, masa masa yang sedang kau lalui sekarang. Dan, semua orang punya kekurangan, tinggal bagaimana kita mengubah kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan, CHANGING THE NEGATIVE TO POSITIVE. ” Jawabnya dengan tutur kata yang lembut tapi berwibawa. Seakan-akan aku tidak pernah menyakiti perasaannya. ”Terima kasih, ayah..” jawabku masih dengan tangis.
“Dan ayah tau, pasti engkau dapat melakukannya, nak. Yakin dan percayalah. Just Believe It”, tak kusangka itu adalah kata kata terakhirnya sebelum beliau benar benar pergi dariku dan semua anggota keluarga. Kurasakan luka dalam hati yang sempat berkurang setelah bertemu dengan ayah, kini kembali semakin sakit. Air mata yang sedari tadi mengalir, terasa semakin deras.
Aku keluar dari kamar ayah dengan hati yang hampa, pikiran yang kosong dan dengan langkah yang berat. Segera kupeluk ibunda dan kedua saudaraku. ”Maafkan aku, bunda.. Semua ini karena kesalahanku. Dan sekarang beliau telah benar benar pergi ke surga. ”Ucapku di sertai derai tangis kepada ibunda. Ibunda  hanya terdiam sebentar, lalu berkata,”Tak apa nak. Semua sudah digariskan oleh yang kuasa. Yang sekarang perlu kau lakukan hanyalah kembali ke jalan yang benar. Seperti yang diharapkan ayahandamu..”
Lalu aku menyendiri untuk menenangkan pikiranku. Otakku berpikir keras dan akhirnya kusadari aku telah salah. Bersalah kepada semua orang yang sangat menyayangiku. Ayah, Bunda, Adik, dan Kakakku. Sesal, itulah yang aku rasakan. Rasa sesal mengapa dulu aku harus menuruti ajakan iblis durjana. Sesal yang terasa sangat sesak di dada.
Dan akhirnya setelah agak lama menyendiri, kuputuskan untuk membuka pikiranku, yang sudah lama tertutupi oleh kabut kelam perbuatanku. Kubuka pikiranku untuk meraih mimpiku. Untuk menebus kesalahanku, kesalahan yang berakibat sangat fatal.
***
Sudah lima bulan sejak kematian ayahandaku dan sudah dua bulan sejak aku keluar dari panti rehabilitasi. Ya...sejak kematian ayahku, kubuka pikiranku untuk merubah jalan hidupku dan meraih cita-citaku. Dan kurasa langkah pertama yang paling penting adalah merehabilitasi diriku sendiri, agar terbebas dari jerat narkoba yang selama ini membelenggu jati diriku.
Kuingat dan kukenang hari hariku di dalam masa rehabilitasi. Kumulai hari dengan berat karena bayang-bayang narkoba masih berkutat di kepalaku. Namun semua beban itu terkalahkan oleh kemauan keras dalam diriku untuk berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dan kemauan itu datang berkat ayahandaku.
***
Terbangun aku dari lamunanku atas masa laluku setelah ada seseorang menepuk bahuku. Kutoleh kebelakang, tersenyum seorang wanita cantik, dialah manajerku, penasehatku dan juga istriku. ”Engkau tak apa sayang? Apa kamu sudah siap dengan lagu yang akan kau tampilkan esok di konser??”. Aku hanya tersenyum lalu mengecup keningnya. Dan kulihat arloji di tanganku, astaga! Sudah hampir satu jam aku mengenang masa laluku.




NAMA                         : RENNO ANDRIANSAH NAFIANTO SAPUTRO
SEKOLAH                  : SMK PANCASILA 2 JATISRONO
E-mail                          : sebastian.ricky77@yahoo.com
      

PEJANTAN HEBAT

            Langit menjadi terang, seekor naga telah menghapus gelapnya malam. Sang surya sudah terbit, dedaunan kian terjatuh tertiup angin. Kokok ayam sudah lama berbunyi ataupun radio teriakan tukang sayur saling bersautan. Para remaja dengan pakaian sederhana, dengan alat perangnya menghantam rasa malu dan selalu bekerja keras, kini mereka mulai berjalan. Teriakan tukang minuman dan bisingnya kendaraan mengiringi langkah mereka, demi gemericik recehan uang kembalian, mereka terus berjalan..

            Tidak menanggung rasa malu, mereka terus berjalan, bukan sembarang berjalan, mereka berjalan demi mendapat uang kembalian. Dari sudut kampung ke sudut kampung, sudut kota ke sudut kota, dari lampu merah satu ke lampu merah lainnya. Mereka pantang menyerah demi kehidupannya yang selalu kekurangan, mereka terus dan terus bernyanyi.
            Kini sang surya sudah tepat di atas kepala mereka, memang panas tetapi akan selalu dirasakan dingin apabila mereka sedang benar-benar kekurangan dan tidak berhenti berjalan atau NGEBUT bak SATRIA F. Tapi untuk hari ini mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kini mereka berjalan, mencari tempat yang teduh untuk teduh untuk menghilangkan penat, dan berhenti sejenak untuk menaruh kepala di atas batu pada sebuah taman.
            “Dua ribu lima ratus, tiga ribu, empat ribu lima ratus, lima ribu, lima ribu dua ratus... “   kini hasil ngamen setengah hari dihitung dengan teliti, tampaknya memang numpuk tapi nilai nya baru Rp 15.000. Kini mereka mulai berjalan kembali, tidak lama memang waktu mereka untuk melepaskan penat dan capek, karena mereka sedang dikejar adzan maghrib waktu mereka berhenti ngamen.  Mereka lagi-lagi berjalan ke sudut-sudut dan perempatan jalan di tengah-tengah IBUKOTA. Melihat hari minggu kawan-kawan asyik bermain, mereka sedih, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apalagi, uang baru Rp 15.000, belum cukup untuk beli makan berdua untuk satu hari saja, iya berdua Roby dan Albert, seorang kakak-adik yang selalu giat mencari uang dan bekerja keras demi uang recehan yang bagi mereka itu segalanya.
            Mereka kini sedang menghibur para pengendara mobil di BANG-JO, alias perempatan lampu merah, mereka menatap sebuah kaca mobil, mereka melihat diri mereka, iuch tampak kasian dan memprihatinkan. Rambut panjang nan SAPU LIDI, Kulitnya hitam seperti  BATU, dan matanya tajam nan KILAT, menggambarkahn mereka selalu beroptimis mencari uang tanpa memandang dari luar mereka. Seorang remaja yang putus sekolah di bangku kelas empat dan satu SD, sampai sekarang berusia sembilan belas dan lima belas tahun, mencari percikan uang disiang bolong, kalau dapat anak remaja sekarang mending di rumah lalu BOKCI ataupun NHUPI. Iya kahn??
            “Kamu lapar??” tanya Roby pada adiknya. Albert tidak menjawab melainkan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Iya dek, yang sabar ya, kita berjalan dulu, jika uangnya sudah terkumpul banyak, nanti kakak beliin ayam goreng deh, “ kata Roby sambil menghibur Albert. Wajah albert bersedih, tetapi pikirnya demi sesuap nasi Ia harus memakan hasil dari keringatnya sendiri. “Ok.! “ kata singkat Albert dan senyum manisnya.
            TINGGAL KENANGAN, PUNCK  ROCK  JALANAN, SAKIT HATI, dan kawan-kawan... kini turut meramaikan jalanan. Satu lagu, dua lagu, sampai request lagupun mereka nyanyikan. Tuhan memang selalu melihat, hari yang cerah dan panasnya matahari membuat mereka selalu semangat, dan terus berjuang. Kini hari yang semakin ramai membuat mereka senang, banyaknya mobil-mobil pribadi dan taxi-taxi bak SEMUT yang antri makanan, bila dilihat dari pucuk gedung yang mencakar langit. Dari ramainya mobil, ada satu mobil yang kaca mobil belakang dari mobil yang mewah nan menggoda, terbuka dan terlihat bapak bapak yang lumayan tua sekitar empat puluh tahunan yang memakai peci putih dan kalung sorban, bertanya “Rumah kalian dimana dek ? ” dengan suara yang pelan namun penuh tanda tanya. “Kami tinggal di toko pak, dengan atap, dinding, dan alas kardus “ sahutku dengan tegar. “ jadi kalian tidak punya rumah.?” kata bapak tadi dengan rasa kasiannya. Dan Albert dan Roby pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Astahgfirllah, malang nasib kalian.! “ kata bapak bapak tersebut dengan menaruh uang ke dalam kantong yang dibawa Albert. “ terimakasih ya pak .! “ kata Albert kepadanya. Bapak-bapak tadi tersenyum dengan menutup jendela mobil yang bening itu.
            Setelah mobilitu berjalan, mereka menepi dari jalan dan melihat uang yang baru saja di kasih sama bapak-bapak tua tadi. Mereka kaget layak ditodong pistol sama penjahat. “ kak uangnya banyak sekali, merah-merah lagi, “ kata Albert pada kakaknya. “Wah iya ya dek, Alhamdulillah, kita patut bersyukur dan berterimakasih kepada ALLAH dan bapak itu tadi ” katanya sambil melihat kelangit. “ betul kak !“ sahut Albert
            Langit cerah dihari minggu, yang selalu menghantar dan mengiringi akan kegembiraan mereka, rasa riang dan bungah baru merekarasakan hari ini. Langit cerah dihari minggu mengiringi jalan mereka menuju suatu warteg karena mereka sudah DUA HARI tidak makan, tetapi mereka belum merasa puas dengan hasil hari ini, mereka harus terus bekerja keras, karena pikir mereka keberuntungan tidak akan datang kedua kali. Hal ini membuat mereka tambah semangat dalam mencari uang, mereka tambah greget unuk lagi dan lagi, karena ALLAH S.W.T akan selalu melihat jalan mereka. Kini saatnya mereka menikmati mantapnya menu warteg.
            Ayam goreng dan kawan kawan memberi kepuasan pada perut kedua kakak-adik tersebut, tangan yang biasa memegang gitar dan ketipung itu kini memegang ayam goreng dan sendok warteg. Hehe
            Wajah pucat dari mereka kini sudah menjadi terang, layak baterrai yang baru di charg, perut mereka sudah kenyang, tenaga mereka sudah pulih kembali, layak orang buka puasa dengan nasi, ayam goreng, sayur asem, dan beberapa gelas es-teh, layak di strum tegangan listrik 220 V.  ”Sudah bu, semuanya berapa?“ tanya Roby pada Ibu warteg.  “Tiga puluh ribu saja dek.!“ jawab Ibu warteg.
“ mahal banget buk ? “ tanya Albert dengan keras. “ Emang kalian tadi makan dan minum apa ? “ jawab Ibu warteg dengan tegas. “ hehe, iya iya, I’me Sorry buk, ayo bayar kak,!! “ jawab Albert dengan tersenyum dan menyuruh kakaknya untuk membayar.“ ok ! “ sahut Roby
            Sehabis makan kenyang layak orang buka puasa, langit tampak mendung, matahari tertutupi awan hitam, dan tiada sorotan sinar matahari, layak sudah petang hari. Rintikan gerimis kini mulai lebat, derasnya curah hujan, membuat mereka basah kuyup dan berlari di pojopkan toko. Mereka berdiri dan menempelkan punggung mereka pada tembok sampai mereka terduduk sendirinya karena lantai licin oleh percikan air hujan. Mereka terduduk berdua sambil melihat genangan air yang mulai banyak di tengah-tengah jalan. Kini hujan sudah reda, sang naga sudah menghapus mendung hitam dari langit yang cerah dan langit kembali menjadi terang. Kini suasana menjadi sore hari, senja yang indah dan merahnya langitdi ufuk barat membuat hari sore menjadi segar, bunga yang layu mulai mekar, tanah yang kusam menjadi kecokelatan, karena sudah di guyur derasnya curah hujan di musim kemarau ini.
            Kini sore yang indah menjadi petang dan menjadi malam yang cerah dengan rasi bintang dan cahaya rembulan. Yang menemani mereka berjalan menuju istana mereka, mereka sampai di istana, dan menata tempat tidur mereka berdua. Kini mereka mulai beristirahat hingga kokok ayam membangunkan mereka. Lama sudah mereka tertidur pulas dimalam yang indah, kini mereka terbangun, dan membereskan tempat tidur mereka karena mungkinsebentar lagi akan di pakai untuk berjualan.  Hari kembali terang, sang surya sudah tiba di ufuk timur, angin yang cukup kencang, dedaunan yang berjatuhan dan embun pagi yang menetes menjadi saksi atas keberangkatan mereka mencari ricihan uang. Mereka berangkat pagi pagi layaknya petani berangkat ke sawah. Hari ini mereka ngamen lewat angkutan umum dan ke BANG-JO yang belom tersentuhnya. Saat ia mulai di jalanan, ngamen di pinggir jalan, mereka di panggil seseorang dari dalam mobil, eh ternyata bapak-bapak tua yang kemarin memberi uang banyak pada mereka, dan Ia berkata “ kalian ikut saya ya ? “. “ kemana pak ? “  jawab Albert dengan keras. “ sudah ikut saja, nanti kalian senang kok, “ jawab Bapak-bapak tadi. Mereka percaya dan masuk kedalam mobil mewah tersebut, dan ikut sama bapak tadi. Masa mereka tidak percaya sama orang yang sudah baik kepadanya, memberi uang dan saat ini mau ajak Mereka jalan-jalan.
            “Ini rumah saya dek“ kata bapak tadi sambil memperlihatkahn dan menggiringnya masuk kerumah. “Wah besar banget pak, rumah bapak layak istana, coba saja saya bisa tinggal disini, pasti saya tidak akan main kemana-mana, hehe kata Albert dengan tersenyum.” Sahutku dengan heran. “Kalian bisa tinggal disini, bahkan kalian akan saya jadikan anak kalau mau!“ jawab Bapak tadi. “Ah bapak bisa aja, hehe, oh iya nama bapak siapa?“ jawabku sungkan. “Nama saya Sulaiman, terserah kalian mau panggil apa.“ kata Pak Sulaiman.  “Owh iya, Pak Man saja ya ? “
“ Iya, siapa nama kalian?. “Saya Roby dan ini adikku Albert namanya.” Jawab Roby. “Apakah kalian tidak mau kan tinggal disini??? “ tanya pak Sulaiman.
“ Mau dong pak, serius kaan ? “ jawab Albert. “ Iya dong “ sahut pak Sulaiman.
            Kini mereka melanjutkan sekolah dan tinggal bersama bapak Sulaiman, dan kini mereka sudah bahagia dengan keadaan sekarang dan tidak melupakan kerja keras nya dulu bersama adiknya dan alat perangnya.