Rabu, 23 Januari 2013

SAPARDI DJOKO DAMONO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: http://profil.merdeka.com/indonesia/s/sapardi-djoko-damono/

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka, yang dikenal lewat berbagai puisi-puisinya, yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.


Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Sadyoko adalah abdi dalem di Keraton Kasunanan, mengikuti jejak kakeknya. Berdasarkan kalender Jawa, ia lahir di bulan Sapar. Hal itu menyebabkan orang tuanya memberinya nama Sapardi. Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.


Awal karir menulis Sapardi dimulai dari bangku sekolah. Saat masih di sekolah menengah, karya-karyanya sudah sering dimuat di majalah. Kesukaannya menulis semakin berkembang ketika dia kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.


Dari kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama, dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol dimilikinya. Pria yang dijuluki sajak-sajak SDD ini tidak hanya menulis puisi, namun juga cerita pendek. Ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola. Sapardi juga sedikit menguasai permainan wayang, karena kakeknya selain menjadi abdi dalem juga bekerja sebagai dalang.


Penyair yang tersohor namanya di dalam maupun luar negeri ini juga sempat mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Ia juga pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar serta menjadi redaktur pada majalah Horison, Basis, dan Kalam. Namun kini ia telah pensiun. Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

PENDIDIKAN

Sekolah Dasar Kasatrian

SMP II Mangkunagaran

SMA II di Margoyudan

Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

KARIR

Guru Besar Ilmu Sastra

Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)

Dosen Universitas Diponegoro

Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia

Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Anggota Dewan Kesenian Jakarta

Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin

Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis

Country editor untuk majalah Tenggara

Koresponden untuk Indonesian Circle

Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

PENGHARGAAN

Karya:

Duka-Mu Abadi, Bandung (1969)

Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)

Mata Pisau (1974)

Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)

Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)

Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)

Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)

Perahu Kertas (1983)

Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)

Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn)

Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn)

Afrika yang Resah (1988; terjemahan)

Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)

Hujan Bulan Juni (1994)

Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)

Arloji (1998)

Ayat-ayat Api (2000)

Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)

Mata Jendela (2002)

Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)

Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)

Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an) (2005; salah seorang penyusun)

Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono (2005; translated by J.H. McGlynn)

Kolam (2009; kumpulan puisi)


Penghargaan:

Cultural Award dari Australia (1978)

Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)

SEA Write Award dari Thailand (1986)

Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)

Mataram Award (1985)

Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI

Penghargaan Achmad Bakrie (2003) 

 

KUMPULAN PUISI 

AKU INGIN

Oleh :Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


AIR SELOKAN

Oleh :Sapardi Djoko Damono

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi.  Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung

-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:

"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"

Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali. 

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982

 

AKULAH SI TELAGA

Oleh :Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

-- perahumu biar aku yang menjaganya

  

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982

 

ANGIN, 1

Oleh :Sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang mendadak di depanku?"

angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi

-- sampai pagi tadi:

ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa 

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982

 

ANGIN, 2

Oleh :Sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.

Seekor ular lewat, menghindar.

Lelaki itu masih tidur.

Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang

di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982

 

ANGIN, 3

Oleh :Sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan   ......

Tapi kau angin!

Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,

menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

"Seandainya aku . . . ., ."

Tapi kau angin!

Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

"Seandainya  ......

Tapi kau angin!

Jangan menjerit:

semerbakmu memekakkanku.

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982

 

ATAS KEMERDEKAAN

Oleh :Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah

dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut

di atasnya : langit dan badai tak henti-henti

di tepinya cakrawala

terjerat juga akhirnya

kita, kemudian adalah sibuk

mengusut rahasia angka-angka

sebelum Hari  yang ketujuh tiba

sebelum kita ciptakan pula Firdaus

dari segenap mimpi kita

sementara seekor ular melilit pohon itu :

inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

 

Horison

Thn III, No. 8

Agustus 1968

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

 

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

Oleh :Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

 

BUNGA, 1

Oleh :Sapardi Djoko Damono

(I)

Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.

Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;

siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;

malam hari ia mendengar seru serigala.

Tapi katanya, "Takut?  Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"

(II)

Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.

Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....

Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia!  Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982

 

BUNGA, 2

Oleh :Sapardi Djoko Damono

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik

taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata

jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya -- tak ada

alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin

menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu

kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya

selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma

pendar-pendar di permukaan kolam

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,1982


Tidak ada komentar: